Ada satu kebenaran universal yang disepakati semua anak rantau Malang: makanan di kota lain boleh lebih mahal, lebih mewah, lebih bagus difoto. Tapi tidak ada yang rasanya bisa menyamai jajanan zaman kuliah. Bukan karena bumbunya rahasia, tapi karena yang kita rindukan sebenarnya bukan cuma makanannya. Yang kita rindukan adalah masa ketika uang sepuluh ribu terasa cukup untuk bahagia.
1. Seblak dan Jajanan Gang Kerto
Gang-gang Kerto itu tidak pernah benar-benar tidur. Dari sore sampai larut malam selalu ada saja yang berjualan. Seblak dengan level pedas yang bikin menangis tapi tetap dipesan lagi minggu depan. Telur gulung yang antreannya mengular. Cilok tusuk, sempol ayam, sampai aneka gorengan hangat. Semuanya bisa dijangkau jalan kaki dari kos, dan semuanya ramah di kantong mahasiswa. Lima ribu bisa kenyang, sepuluh ribu sudah terasa seperti pesta.
2. Tahu Telur dan Tahu Campur
Ini kuliner yang benar-benar Jawa Timur. Petis hitam pekat, tahu goreng yang masih hangat, lontong, kecambah, kentang, disiram bumbu yang diulek dadakan di depan mata. Makanan sederhana yang diam-diam mengajarkan satu hal penting: kebahagiaan itu sebenarnya murah, asal tahu di mana mencarinya. Penjual langganan biasanya bahkan hafal, pedasnya berapa cabai dan pakai krupuk apa.
3. Bakso Malang, Tentu Saja
Tidak sah membahas kuliner Malang tanpa bakso. Bakso Malang yang asli itu lengkap: bakso halus, bakso urat, bakso goreng, siomay, tahu isi, plus mi kuning dan sedikit sambal yang jujur. Di perantauan memang banyak yang memasang spanduk Bakso Malang. Kita semua pernah mencobanya dengan penuh harapan, dan kita semua tahu hasilnya. Beda. Entah apanya yang beda, pokoknya beda.
4. Es Degan dan Es Buah Pinggir Jalan
Penyelamat resmi siang bolong setelah kelas panjang. Duduk di kursi plastik warna-warni, memesan es degan gula merah, lalu membahas dosen yang baru saja memberi tugas dadakan dengan tenggat tidak masuk akal. Airnya manis, obrolannya panjang, dan entah bagaimana semua masalah perkuliahan terasa lebih ringan setelahnya.
5. Nasi Goreng dan Angkringan Tengah Malam
Gerobak nasi goreng yang lewat di depan kos jam sebelas malam itu semacam alarm kedua bagi anak kuliahan. Suara ketukan spatula ke wajan dari kejauhan, lalu satu gang mendadak lapar bersamaan. Ditambah angkringan dengan sate usus, sate telur puyuh, dan teh anget yang menemani begadang mengerjakan laporan. Sampai sekarang, suara spatula itu masih suka terngiang.
6. Pos Ketan Legenda
Sudah berdiri sejak tahun 1967 dan antreannya tidak pernah sepi. Ketan bubuk kelapa yang klasik, ketan susu keju yang jadi favorit, sampai varian durian untuk yang berani. Duduk lesehan, makan ketan hangat, ngobrol sampai lupa jam. Antre panjang tidak pernah jadi masalah, karena menunggunya pun bagian dari acaranya.
Rindu Rasanya? Rasanya Masih di Tempat yang Sama
Ini bagian terbaiknya: hampir semua jajanan di atas masih ada sampai sekarang. Masih di tempat yang sama, masih dengan rasa yang sama, dan kebanyakan masih dengan harga yang membuat kita curiga penjualnya belum menghitung inflasi. Yang perlu dilakukan tinggal satu, membawa badan ini pulang ke Malang.
Kalau rencana wisata kuliner ini jadi dieksekusi bersama teman-teman lama, The Urbanisia Villa bisa jadi basecamp yang pas. Lokasinya di Klojen, dekat dari kampus dan dari hampir semua tempat jajan di daftar ini. Datang lapar, pulang bahagia, tidurnya tetap nyaman.
Foto: Yoshitsugu Saito (Unsplash)