Nostalgia

Rindu Kampus? 7 Sudut Universitas Brawijaya yang Selalu Bikin Kangen

Suasana jalan kampus dengan pepohonan palem tropis

Ada yang bilang, kita tidak pernah benar-benar lulus dari Brawijaya. Badan boleh diwisuda, toga boleh dilempar, tapi hati sering kali masih nyangkut di sekitar Jalan Veteran. Buat kamu yang sudah bertahun-tahun merantau, coba baca pelan-pelan. Siapa tahu ada satu dua bagian yang bikin senyum sendiri di depan layar.

1. Gerbang Veteran

Pintu masuk sejuta umat. Dulu ini tempat janjian paling gampang se-Malang Raya. Tinggal bilang ketemu di gerbang Veteran, semua orang langsung paham. Tidak perlu share lokasi, tidak perlu drop pin. Sekarang, lewat depannya saja rasanya seperti membuka album foto lama. Gerbangnya masih berdiri di tempat yang sama, yang berubah cuma kita.

2. Bundaran UB dan Tugu

Saksi bisu segala macam momen. Foto ospek dengan muka polos dan almamater kebesaran. Foto wisuda dengan senyum lega bercampur bingung mau kerja apa. Sampai foto random tengah malam setelah begadang mengerjakan tugas kelompok. Air mancurnya sederhana saja sebenarnya, tapi entah kenapa selalu jadi latar belakang cerita yang tidak sederhana.

3. Perpustakaan Pusat

Tempat paling ambigu di seluruh kampus. Niat awalnya selalu mulia: belajar, cari referensi, nyicil skripsi. Kenyataannya sering berakhir tidur di lantai dua, atau ngobrol berbisik-bisik di lobi sampai ditegur petugas. Wi-Fi kencang dan ruangan dingin memang kombinasi berbahaya untuk niat baik. Tapi harus diakui, banyak bab skripsi yang akhirnya selesai juga di sini.

4. Lapangan Rektorat

Sore hari, duduk di rumput, memandang langit Malang yang berubah oranye, ditemani gorengan seribu tigaan. Kedengarannya biasa saja. Tapi coba tanya anak rantau yang sekarang tinggal di kota besar, momen sesederhana itu justru yang paling mahal untuk diulang. Tidak ada meeting, tidak ada deadline, cuma sore dan teman-teman.

5. Kantin Fakultas

Setiap fakultas punya kantin legendarisnya sendiri, dan setiap anak UB pasti punya menu andalan yang dihafal ibu kantin. Harga bersahabat dengan tanggal tua, porsi cocok untuk mahasiswa yang lupa sarapan. Beberapa menu bahkan tidak pernah ditemukan lagi rasanya di tempat lain, mungkin karena bumbunya memang kenangan.

6. Gang-Gang Kerto

Kertosentono, Kertoleksono, Kertorahayu, dan saudara-saudaranya. Labirin kos-kosan tempat kita pertama kali belajar hidup mandiri. Belajar masak nasi, belajar hemat di akhir bulan, belajar mengatur hidup sendiri jauh dari orang tua. Suara motor lewat tengah malam, aroma laundry kiloan di pagi hari, dan mie instan jam dua pagi bersama teman sebelah kamar. Kalau gang-gang ini bisa bicara, mungkin mereka hafal semua cerita kita.

7. Suhat Selepas Magrib

Jalan Soekarno-Hatta dengan deretan kafe dan warung kopinya. Tempat merayakan selesainya UAS, tempat rapat organisasi yang molornya konsisten, tempat curhat patah hati, sekaligus tempat menyusun rencana move on. Sekarang wajah Suhat sudah banyak berubah, kafenya makin banyak dan makin bagus. Tapi fungsinya masih sama: tempat anak muda Malang menghabiskan malam.

Kapan Terakhir Pulang?

Kabar baiknya, semua tempat di atas masih ada dan masih bisa dikunjungi. Kampus makin cantik, Malang makin ramai, tapi rasa pulangnya tidak berubah. Kalau rindu ini sudah tidak tertahan, mungkin memang sudah waktunya mengumpulkan teman-teman seangkatan dan merencanakan reuni kecil-kecilan di Malang.

Soal tempat menginap, The Urbanisia Villa ada di Klojen, hanya beberapa menit dari kampus. Empat kamar, cukup untuk sepuluh orang. Nginap bareng, masak bareng, begadang cerita bareng. Persis seperti zaman kos dulu, hanya saja kali ini kasurnya jauh lebih nyaman.

Foto: Winston Chen (Unsplash)