Malang punya cara sendiri untuk menyambut orang yang pulang. Udaranya masih sejuk, Gunung Arjuno masih setia berdiri di kejauhan, dan jalanan kotanya masih menyimpan cerita di setiap belokan. Kalau kamu cuma punya satu hari penuh untuk bernostalgia, rute berikut ini bisa jadi panduan. Santai saja menjalaninya, karena tujuan utamanya memang bukan tempatnya, melainkan perasaannya.
Pagi: Kopi dan Kayutangan Heritage
Mulailah dari Kayutangan. Kawasan kolonial ini sekarang sudah tertata rapi dan jadi salah satu ikon baru kota, tapi suasana lawasnya masih terasa kental. Pilih satu kedai kopi tua, pesan kopi hitam atau kopi susu, lalu duduk dekat jendela. Setelah itu jalan kaki pelan-pelan menyusuri gang heritage di belakangnya. Rumah-rumah zaman Belanda masih berdiri, beberapa bahkan masih dihuni keluarga yang sama sejak puluhan tahun lalu. Sarapan bisa sekalian di sekitar sini, banyak pilihan dari yang klasik sampai kekinian.
Menjelang Siang: Alun-Alun dan Pusat Kota
Dari Kayutangan, semuanya dekat. Mampir ke Alun-Alun Tugu dengan bunga teratainya dan gedung Balai Kota di belakangnya, spot foto wajib sejak zaman kuliah dulu. Lanjut ke Alun-Alun Merdeka yang sekarang lebih hijau dan ramah pejalan kaki. Kalau cuaca sedang bagus, duduk saja sebentar di bangku taman. Perhatikan orang lalu-lalang, dengarkan suara kota. Malang punya ritme yang berbeda dengan kota besar, lebih pelan dan lebih ramah.
Siang: Lewat Kampus, Pelan-Pelan Saja
Ini bagian yang paling emosional. Arahkan kendaraan ke Jalan Veteran, lalu pelankan lajunya. Lihat gerbang UB, bundaran, gedung-gedung baru yang dulu belum ada waktu kita masih bolak-balik kuliah. Boleh berhenti untuk foto, boleh juga sekadar lewat sambil senyum-senyum sendiri. Kalau perut sudah lapar, kantin sekitar kampus dan warung-warung legendaris di area Kerto siap menyambut seperti dulu.
Sore: Ngadem dan Berburu Kuliner
Sore di Malang itu waktu terbaik. Udara turun, langit bagus, dan pilihan kegiatannya banyak. Bisa nongkrong di kafe daerah Suhat seperti zaman dahulu, bisa juga langsung berburu makanan berat: bakso, tahu campur, rawon, atau cwie mie. Sebelum gelap, sempatkan mampir ke sentra keripik tempe Sanan untuk beli oleh-oleh. Percayalah, keluarga di rumah akan menagih ini.
Malam: Udara Dingin dan Cerita Lama
Tutup hari dengan cara paling Malang: jagung bakar, angkringan, atau ronde hangat, ditemani udara malam yang dinginnya khas itu. Kalau pulangnya ramai-ramai satu angkatan, biasanya malam akan berakhir dengan cerita-cerita lama yang tidak pernah selesai. Cerita yang sama, ditertawakan lagi, dan anehnya tetap lucu.
Tips Singkat
Pertama, bawa jaket, terutama kalau lupa rasanya udara Malang malam hari. Kedua, datanglah di hari kerja kalau bisa, akhir pekan kota ini cukup ramai wisatawan. Ketiga, jangan terlalu kaku dengan jadwal. Rute di atas cuma kerangka, sisanya biarkan kaki dan perut yang memutuskan.
Basecamp untuk Rute Ini
Rute sepadat ini paling enak dijalani kalau menginapnya strategis. The Urbanisia Villa berada di Klojen, praktis di tengah semua titik di atas. Dekat kampus, dekat Kayutangan, dekat alun-alun. Empat kamar untuk maksimal sepuluh orang, cocok untuk satu geng lama yang akhirnya berhasil menyamakan jadwal cuti. Selamat pulang ke Malang.
Foto: REVTLProjects (Unsplash)